Sabtu, 09 Maret 2013

Prosedur Pembuatan Koran Jawa Pos


  PROSEDUR PEMBUATAN KORAN JAWA POS

2.1 Sejarah Jawa Pos

      Jawa Pos merupakan koran terbesar dan tertua di Indonesia. Koran Jawa Pos ini didirikan pada tanggal 1 Juli 1949 oleh pasangan suami isteri The Chung Shen alias Soeseno Tedjo dan Mega Endah. The Chung Sen adalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya, karena setiap hari beliau harus memasang iklan bioskop di surat kabar lama-lama beliau tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Dahulunya koran ini bernama Djawa Pos, kemudian semakin berkembangnya zaman globalisasi berubah menjadi Jawa Pos. The Chung Sen pernah menjadi raja koran di Indonesia karena memiliki tiga koran yang diterbitkan dalam tiga bahasa: Java Post, koran beraksara Cina Hwa Chiao Sien Wen dan koran berbahasa Belanda de Vrije Pers. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus.  Koran berbahasa Cina yang antikomunis itu akhirnya ditutup ketika Partai Komunis Indonesia makin kuat berpengaruh, sedangkan yang berbahasa Belanda diubah jadi koran berbahasa Inggris, Indonesian Daily News. Koran ini ditutup karena kesulitan mencari redaktur dan Dahlan kini mencoba menghidupkannya kembali.
      Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
      Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru Eric mengangkat Dahlan Iskan untuk memimpin Jawa Pos. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
      Kemandirian Jawa Pos itu tidak datang begitu saja. Dahlan Iskan dan seluruh staf lama Jawa Pos kerja keras dan kerja lebih keras. Begitu jadi pemimpin redaksi Jawa Pos, Dahlan menurunkan semua ilmu yang diperolehnya di Tempo kepada semua wartawan Jawa Pos. Sistem kerja wartawan Jawa Pos, yang tadinya hanya menantikan siaran pers atau undangan pertemuan pers, diubahnya jadi sistem mengejar dan menggali berita.  
      Lima tahun kemudian terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997, Jawa Pos pindah ke gedung yang baru berlantai 21 Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya yang berdiri di atas tanah seluas 50 hektar. Tahun 2002 dibangun Graha Pena di Jakarta.
      Tahun 2002 Jawa Pos Group membangun pabrik kertas koran yang kedua dengan kapasitas dua kali lebih besar dari pabrik yang pertama. Kini pabrik itu PT Adiprima Sura Perinta, mampu memproduksi kertas koran 450 ton/hari. Setelah sukses mengembangkan media cetak di seluruh Indonesia, pada tahun 2002 Jawa Pos Group mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam, Riau TV di Pekanbaru, Fajar TV di Makassar, Palembang TV di Palembang, Parijz van Java TV di Bandung, Radar Cirebon Televisi RCTV di Cirebon Kota Wali.
      Memasuki tahun 2003 Jawa Pos Group merambah bisnis baru  Independent Power Plant. Proyek pertama adalah 1 x 25 MW di Kab. Gresik, yakni dekat pabrik kertas. Proyek yang kedua 2 x 25 MW, didirikan di Kaltim, bekerjasama dengan perusahaan daerah setempat. Pada tahun 2008, Jawa Pos Group menambah stasiun televisi baru Mahkamah Konstitusi Televisi (MKtv) yang berkantor di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta. Pada tahun 2009, Jawa Pos Group menambah data center baru Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang berkantor di Gedung Graha Pena Surabaya. Hingga tahun 2012 kini Jawa Pos telah memiliki 23 TV lokal yang berada dibawah naungan Jawa Pos. Koran yang memiliki slogan “Selalu ada yang baru” kini mempunyai presiden direktur yang bernama Azrul Ananda.
 
Sekarang ada 170 lembaga yang berada di bawah naungan Jawa Pos. Pada tanggal 12  Oktober 2011 Jawa Pos dikukuhkan sebagai koran anak muda dunia dengan predikat Newspaper of The Year oleh World Young Reader Prize 2011. Pada tahun 2012 koran Jawa Pos kembali meraih penghargaan sebagai koran desain terbaik di Asia Pasifik.
2.2 Redaksi Jawa Pos
      Saat ini koran Jawa Pos memiliki 15 radar yang masing-masing memiliki redaksi sendiri di kotanya yaitu:
a.       Radar Banyuwangi (Banyuwangi), beredar di Banyuwangi dan Situbondo.
b.      Radar Jember (Jember), beredar di Jember, Lumajang dan Bondowoso.
c.       Radar Bromo (Kota Pasuruan), beredar di Pasuruan dan Probolinggo.
d.      Radar Malang (Kota Malang), beredar di Malang dan Batu.
e.       Radar Mojokerto (Kota Mojokerto), beredar di Mojokerto dan Jombang.
  1. Radar Gresik (Gresik), beredar di Gresik, Surabaya, dan Lamongan
  2. Radar Kediri (Kota Kediri), beredar di Kediri dan Nganjuk.Kantor di Jalan Brawijaya Kota Kediri
  3. Radar Tulungagung (Tulungagung), beredar di Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar.
  4. Radar Bojonegoro (Bojonegoro), beredar di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Blora.
  5. Radar Madiun (Kota Madiun), beredar di Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, dan Pacitan.
  6. Radar Madura (Bangkalan), beredar di Pulau Madura.
  7. Radar Bali (Bali), beredar di Denpasar Bali.
2.3 Prosedur proses produksi
      Para wartawan Koran Jawa Pos mencari berita di lapangan sejak dini hari pukul 00.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, kemudian dikirimkan ke server. Setiap harinya wartawan selalu bekerja sedemikian rupa untuk mencari berita-berita yang terbaru dan terkini. Sesuai dengan slogannya “Selalu ada yang baru”, sebisa mungkin menyuguhkan berita yang teraktual hanya untuk pembacanya.
      Pada pukul 16.00 WIB para wartawan segera datang menuju kantor Jawa Pos untuk membuat berita. Berita boleh dibuat pada saat berada di lapangan atau saat telah berada di kantor, kemudian dikirim ke server news. Setelah itu berita akan diambil oleh redaktur (orang yang bertanggungjawab terhadap halaman) yang akan diberi judul oleh redaktur tersebut. Pengerjaan penulisan berita tersebut dapat dilakukan dari sore hari dan berakhir hingga malam hari. Berita yang ditulis berasal dari empat sumber, yaitu dari wartawan Jawa Pos, wartawan media grup Jawa Pos, wartawan dari kantor berita, dan berita yang didapat dari masyarakat sekitar. Setiap media grup akan mengirimkan lima foto dan berita yang terbaik pada saat itu untuk dikirim ke pusatnya yaitu Jakarta.
      Berita yang akan diolah selalu mengikuti prosedur yang telah diterapkan. Berita yang telah ditulis wartawan tadi, akan dikirim ke server news yang kemudian diambil oleh orang yang bertanggungjawab terhadap halaman atau yang biasa disebut dengan redaktur. Tugas redaktur nantinya akan memberi judul pada pembahasan koran tersebut. Pemilihan judul pastinya harus yang dapat membuat pembacanya tertarik untuk membacanya. Setelah itu akan di simpan di server halaman, kemudian di ambil oleh editor bahasa yang akan mengedit kata-kata dan bahasa sesuai dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Setelah itu di ambil oleh layout (orang yang menata letak sebuah halaman) yang bertugas mengatur tata letak halaman agar tampak menarik dengan menggunakan software I-desain.
Setelah semua proses pengolahan berita berjalan lancar, orang yang akan mencetak berita dapat membuka server halaman. Sistem pencetakan ini menggunakan SCJJ yang merupakan kepanjangan dari Sistem Cetak Jarak Jauh. Dengan menggunakan teknologi internet, orang yang akan mencetak berita dapat membuka server halaman dan memilih berita mana saja yang akan dijadikan berita dalam bentuk koran. Setelah itu proses pencetakan ribuan koran segera dilakukan agar cepat tersebar di masyarakat. Pada pencetakan ini, kertas koran yang digunakan berasal dari kertas bekas dari luar negeri yang kemudian dibubur menjadi kertas koran baru.
Koran yang telah dicetak, kemudian akan disebarluaskan kepada loper koran. Loper koran kemudian menawarkannya ke penjual koran baik pedagang koran pinggiran maupun pedagang koran yang menawarkan di pinggir jalan sekitar lampu merah. Harga koran tersebut adalah Rp.2500,00 dari harga asli kantor pembuatan. Namun, pada tulisan di pojok kakan atas koran tertera harga Rp.4500,00. Harga tersebut merupakan harga eceran tertinggi yang dapat dijual dari loper koran ke pembelinya. Pada pagi hari, koran dapat terjual dengan harga Rp.4500,00 karena pagi hari bisa disebut masih hangat-hangatnya berita. Jika sudah siang, harga koran akan turun menjadi Rp.3500,00, dan pada sore hari para loper koran tersebut akan menjualnya dengan harga Rp.2500,00. Memang dengan penjualan Rp.2500,00 di sore hari tidak mendapatkan untung, tetapi paling tidak para penjual koran tidak merasakan kerugian dalam dirinya.
 
      Dalam satu eksemplar koran, terdapat berbagai halaman yang fungsinya berbeda, antara lain:
a.       Pada tahun 2000 terdapat halaman Metropolis yang berisi tentang berita daerah Surabaya
b.      Tahun 2000 terdapat halaman Deteksi yang berisi berita anak muda yang disajikan tiga halaman per harinya.
c.       Tahun 2003 terdapat halaman sportivo yang berisi berita mengenai olahraga yang disajikan dalam 16 halaman per harinya
d.      Tahun 2006 terdapat halaman nouvelle yang diperuntukkan anak muda
e.       Tahun 2008 terdapat halaman evergreen yang diperuntukkan usia di atas 50 tahun
f.       Tahun 2011 terdapat halaman for her yang disajikan khusus untuk pembaca para wanita
g.      Tahun 2012 terdapat halaman car free day yang membahas mengenai area bebas kendaraan bermotor

1 komentar:

  1. wah, ini artikelnya mmbntu sekali. buat tugas kuliah saya.

    terimakasih :D

    BalasHapus