Sabtu, 09 Maret 2013

Pengajaran Menyimak Untuk Meningkatkan Daya Simak


PENGAJARAN MENYIMAK UNTUK MENINGKATKAN
 DAYA SIMAK
A.           Pengertian Menyimak
            Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta intrepetasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 1986:31).
            Menurut Anderson (1972) bahwa menyimak sebagai proses besar mendengar, mengenal, serta menginterprestasikan lamabang-lambang lisan (Tarigan, 1986:19)
            Djago Tarigan (1986) bahwa menyimak dapat dikatakan mencakup mendengar, mendengarkan, dan disertai usaha pemahaman. Pada peristiwa menyimak ada unsur kesengajaan, direncanakan, dan disertai dengan penuh perhatian dan minat.
B.                 Konsep Pengajaran menyimak
            Dalam pembelajaran keterampilan menyimak, terlebih dahulu harus mengerti konsepan sebelum melakukan pembelajaran menyimak. Setelah itu baru menata materi yang dijadikan pengembangan pengajaran.
            Menurut Soedjiatno (1992:1) pada dasarnya pengembangan keterampilan menyimak itu dapat dibedakan atas dua tataran pokok, ialah tataran identifikasi dan tataran seleksi. Tataran identifikasi adalah tahapan pengenalan. Tataran seleksi adalah tahap pemahaman. 
Dalam mengembangkan tingkat keterampilan menyimak siswa, seorang guru harus memilih metode penyampaian yang ekonomis dan efisien. Harus yang mudah dimengerti oleh siswa. Pada tingkat lanjut lebih-lebih tingkat tinggi, di mana banyak keistimewaan bahasa yang dipergunakan, guru boleh memberikan kepada siswa tugas-tugas menyimak dengan materi yang tidak bersangkutan lagi.
C.           Tujuan pengajaran menyimak
Menurut Soedjiatno (1992:4),
      Hanya dengan latihan yang tepat dan teratur, baik bebas, maupun   terdesain, maka akhirnya akan diperoleh keterampilan menyimak yang                         memadai. Pengertian memadai disini berarti penyimak itu mampu                menangkap, memilih, memahami, mengingat, memanfaatkan dengan cara   menganalisis secara teliti, mampu membuat kesimpulan secara tepat atas           pesan wacana lisan yang disimak dari orang lain.

      Dengan menyimak kita akan mendapatkan suatu informasi yang belum kita ketahui. Dengan adanya interaksi dari pendengar dan pembicara akan terjadi suatu interaksi yang mana satu dengan yang lain akan sama-sama mendapatkan informasi.
D.               Evaluasi Sebagai Alat Pendidikan
   Evaluasi dalam pendidikan ini sangatlah penting dengan adanya evaluasi ini penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan dan terpadu dengan  baik. Dengan adanya evaluasi ini sistem pengajaran dapat sesuai dengan program yang dilaksanakan  dan penerapan yang diajarkan dapat terarah dan sistematis. Adanya evaluasi ini dapat pula untuk mengetahui seberapa penguasaan materi pelajaran yang telah diberikan kepada siswa.
E.            Bahan pengajaran menyimak
Menurut Soedjiatno (1992:8) bahan latihan menyimak sebagai berikut :
1.    Harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, apakah tingkat awal, tengah, lanjut, ataukah tingkat tinggi.
2.    Menggunakan Bahasa Indonesia yang baku.
3.    Baik yang terekam dalam pita rekaman maupun yang terwujud suara langsung keduanya perlu dilatihkan, sebab kedua bentuk itu terjumpai dalam kehidupan sehari-hari.
4.    Isi dan wujud bahan latihan sangat bergantung pada kematangan siswa, oleh karena itu untuk tingkat awal jawabannya mungkin saja masih berwujud gambar, tindakan, atau fakta-fakta sederhana.
5.    Untuk tingkat awal bahan latihan kalau perlu masih boleh diulang dua atau paling banyak tiga kali dengan ucapan yang agak diperlambat. Sedangkan  untuk tingkat lanjut atau tinggi sama sekali tidak boleh demikian.
F.            Pemilihan Bahan dan  Tes Menyimak
      Menurut Achsin (1981:36) dalam makalahnya yang berjudul “Pemilihan Bahan Pengajaran” Mariana Karim Mengutip pendapat Peter Strevens tentang ciri-ciri tertentu yang harus dimiliki oleh bahan pengajaran, ciri-ciri tersebut diantaranya :
1)      Bahan pengajarannya harus relevan dengan tingkat kemajuan murud atau mahasiswa, dengan TIU dan TIK(TKP), dan umur murid atau mahasiswa.
2)      Bahan pengajaran harus menarik, bervariasi, diminati murid, dan memberi kepuasan intelektual.
3)      Memberi dorongan dalam arti membuat murid atau mahasiswa merasa mengalami kemajuan.

G.      Meningkatkan daya simakan
   Setiap orang pasti dilahirkan dengan berbagai potensi yang pastinya tidak sama antara orang yang satu dengan yang lainnya. Potensi harus dibina dan dikembangkan sejak dini. Melalui latihan menyimak yang terarah dan berkesinambungan tadi akan terwujud menjadi kemampuan menyimak yang nyata. Walaupun manusia berlatih menyimak, kemampuan menyimaknya akan terbatas. Keterbatasan itu disebabkan oleh daya tangkap yang terbatas dan daya ingatannya. Keterampilan menyimak sangat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan memperoleh informasi dengan melakukan penyimakan.
   Menurut Kawolda bahwa ada lima cara untuk mempertajam daya simak yaitu simak-ulang ucap, identifikasi kata kunci, parafrase, merangkum, dan menjawab pertanyaan (Tarigan, 1991:56).
H.              Perilaku guru untuk meningkatkan daya simak siswa
   Dalam pengajaran di sekolah waktu yang dibutuhkan untuk menyimak dan bercerita hampir sama banyaknya. Menyimak fungsinya untuk menemukan serta memahamai minat dan kecenderungan pembicara. Orang yang terlatih dalam bimbingan secara tidak langsung menyadari betapa pentingnya menyimak. Guru yang bijaksana akan menyimak baik-baik untuk mendorong ekspresi anak didiknya. Setiap orang pasti membutuhkan seseorang yang dapat menyimak jeritan isi hatinya.
      Menurut Nichols dan Stevens (1972:72) bahwa perilaku guru untuk meningkatkan daya simak siswa:
1.      Sediakan waktu untuk menyimak
2.      Berilah perhatian
3.      Berikanlah reaksi lisan yang wajar
4.      Jangan mengorek-ngorek fakta tambahan
5.      Jangan menilai apa yang telah dikatakan
6.      Jangan menghilangkan kepercayaan akan kemampuan si pembicara untuk memecahkan serta menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri (Tarigan, 1986:171-172).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar